Teori Makroekonomi Klasik (Part 1)

Teori Makroekonomi Klasik (Classical Macroeconomic Theory/CMT) adalah teori yang diturunkan dari teori-teori mazhab Klasik. Teori ini dikembangkan oleh para ekonom yang hidup sekitar abad ke-18. Beberapa ekonom yang berpengaruh bagi pengembangan CMT antara lain Adam Smith, Jean Baptiste Say, David Ricardo, John Struat Mill, Alfred Marshall, Irving Fisher, dan A. C. Pigou.

Istilah “Klasik” awalnya dicetuskan oleh Karl Marx untuk merujuk pada ekonomi Ricardian – aliran ekonomi yang dikembangkan oleh David Ricardo dan James Mill serta pendahulunya. Terkait hal tersebut, Keynes dalam bukunya yang berjudul “The General Theory of Employment, Interest and Money” menyatakan bahwa “The classical economists was name invented by Marx to cover Ricardo and James Mill and their predecessors, that is to say for the founders of the theory which culminated in the Ricardian economics“.

Asumsi Teori Makroekonomi Klasik

Ekonomi Klasik secara umum dianggap sebagai aliran modern pertama dalam sejarah pemikiran ekonomi dan dianggap sebagai dasar munculnya ekonomi kapitalis. Teori ini menghendaki adanya campur tangan Pemerintah yang semininal mungkin. Pemikiran ekonomi aliran klasik menganjurkan kebebasan alamiah (freedom) atau liberalisme, kepentingan diri (self-interest), dan persaingan (competition).

Untuk memahami seperti apa teori makroekonomi klasik, ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi, antara lain sebagai berikut.

  1. Perekonomian menganut sistem ekonomi kapitalis murni (laissez faire laissez passer). Artinya bahwa CMT akan berjalan efektif jika sebuah perekonomian memberikan kebebasan penuh pada semua orang untuk melakukan kegiatan ekonomi untuk memperoleh keuntungan. Dalam sistem ini, negara tidak ikut campur dalam urusan ekonomi, namun berperan untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan ekonomi.

  2. Semua aktivitas ekonomi, baik di pasar barang, pasar tenaga kerja, maupun pasar uang diatur sepenuhnya oleh mekanisme pasar yang bekerja atas dasar persaingan sempurna (perfect competition).

  3. Semua harga, baik harga barang dan jasa maupun harga faktor-faktor produksi bersifat fleksibel mengikuti perubahan permintaan dan penawaran. Asumsi ini dikenal sebagai market clearing assumption atau self-adjusting assumption.

  4. Berlakunya Hukum Say (Say’s Law) yang menyatakan “supply creates its own demand” – penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Asumsi ini secara jelas menerangkan bahwa dalam kerangka CMT, unsur aktif yang menggerakkan roda perekonomian adalah sisi penawaran (supply side), dan bukan sisi permintaan (demand side).

  5. Motivasi masyarakat memegang uang hanya untuk memenuhi kebutuhan transaksi. Jadi fungsi uang dalam model Klasik hanya sebatas sebagai satuan hitung (unit of account) dan sebagai media pertukaran (medium of exchange). Asumsi ini dikenal juga sebagai neutrality of money assumption (asumsi netralitas uang).

Inti Teori Makroekonomi Klasik

Teori Makroekonomi Klasik dapat diterapkan pada pasar output, pasar tenaga kerja, dan pasar uang. Berikut adalah inti Teori Makroekonomi Klasik.

Model I – Output Agregat

Model I menjelaskan mengenai faktor apa saja yang menentukan besar kecilnya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan suatu perekonomian. Teori Klasik meyakini bahwa produksi barang dan jasa menjadi sumber utama kemakmuran suatu negara, dan bukan perdagangan luar negeri seperti yang diyakini kaum Merkantilis.

Menurut Teori Klasik ada dua hal yang menentukan besar kecilnya produksi barang dan jasa, yaitu modal (capital/K) dan tenaga kerja (labor/L). Bentuk fungsi produksi dinyatakan sebagai: Y = F(K,L)

Karakteristik yang dimiliki fungsi produksi di atas akan selalu tunduk pada law of diminishing marginal product (hukum tambahan hasil yang semakin berkurang). Dalam jangka pendek ketika modal bersifat tetap (fixed input), sementara tenaga kerja ditambahkan terus-menerus, akibatnya output (Y) akan naik dengan tambahan yang semakin lama semakin berkurang.

Tambahan output yang dihasilkan sebagai akibat penambahan penggunaan input L sebanyak satu unit, disebut sebagai marginal product of labor (MPL), yang juga menggambarkan slope dari fungsi produksi. MPL = ∆Y/∆L = dY/dL.

Gambar 1. Fungsi Produksi

 

Dalam jangka panjang, fungsi produksi dapat bergeser ke atas, misalnya menjadi Y = F(K,L)’. Pergeseran ini dapat terjadi karena ada kenaikan dalam input kapital, atau penggunaan tingkat teknologi yang semakin maju, ataupun kualitas input L (skill dan keahlian) yang semakin meningkat.

Model II – Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja

Pada Model II ini akan dijelaskan mengenai faktor-faktor apa saja yang menentukan besar kecilnya permintaan dan penawaran tenaga kerja. Dalam Teori Makroekonomi Klasik diasumsikan bahwa konsumen dan produsen mengejar kepentingannya masing-masing. Konsumen mengejar kepuasan, sedangkan produsen mengejar keuntungan.

1) Permintaan Tenaga Kerja

Pertimbangan produsen dalam menambah atau mengurangi tenaga kerja adalah apakah penambahan atau pengurangan tenaga kerja tersebut dapat mendatangkan keuntungan maksimum atau tidak. Keuntungan maksimum akan diperoleh jika tercapai kondisi MR = MC.

Dalam pasar persaingan sempurna nilai MR = P. Sementara itu, berdasarkan fungsi produksi dengan satu input variabel, maka nilai MC dapat dirumuskan sebagai: MC = W/MPL. Dengan memasukkan nilai MR dan MC ke dalam syarat keuntungan maksimum, maka akan terbentuk:

P = W/MPL

P.MPL = W   atau   MPL = W/P

W/P menggambarkan tingkat upah riil, yaitu upah yang dinilai menurut tingkat harga dari output yang dihasilkan. Selama MPL ≠ W/P, maka produsen akan terus mengubah penggunaan input L. Jika MPL < W/P, penggunaan input L akan dikurangi, sedangkan jika MPL > W/P, penggunaan input L akan terus ditambah.

Gambar 2. MPL dan Kurva Permintaan Tenaga Kerja

 

Kurva MPL memiliki kemiringan negatif. Hal tersebut mencerminkan berlakunya law of diminishing marginal product. Apabila upah riil sebesar (W/P)0, maka tingkat penggunaan tenaga kerja yang dapat menghasilkan keuntungan maksimum adalah sebesar L0

Namun apabila tingkat upah riil sebesar (W/P)0, sedangkan jumlah input tenaga kerja yang digunakan sebesar L1, maka pada kondisi ini penambahan tenaga kerja akan memperbesar keuntungan yang diperoleh produsen. Sebaliknya, apabila tingkat upah riil sebesar (W/P)0, sedangkan jumlah input tenaga kerja yang digunakan sebesar L2, maka pada kondisi ini pengurangan tenaga kerja akan memperbesar keuntungan yang diperoleh produsen.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, pada tingkat MPL yang sudah tertentu, produsen akan mengurangi penggunaan tenaga kerja hanya apabila tingkat upah riil naik. Sebaliknya, produsen akan menambah penggunaan tenaga kerja hanya apabila tingkat upah riil turun. 

Produsen akan selalu berusaha mencapai kondisi di mana MPL = W/P. Pada tingkat MPL yang sudah tertentu, terdapat hubungan negatif antara upah riil dan penggunaan input tenaga kerja. Ini berarti pula, kurva MPL adalah juga merupakan kurva permintaan tenaga kerja (LD). Dengan demikian, teori Klasik menggambarkan permintaan tenaga kerja sebagai fungsi dari upah riil: LD = LD(W/P); dLD/d(W/P) < 0     

2) Penawaran Tenaga Kerja

Dalam Teori Makroekonomi Klasik, penawaran tenaga kerja juga dipandang sebagai fungsi dari tingkat upah riil. Semakin tinggi tingkat upah riil, semakin tinggi jumlah penawaran tenaga kerja. Begitupun sebaliknya. Namun perlu dicatat, bahwa CMT mengasumsikan konsumen sebagai pemilik faktor produksi tenaga kerja tidak terkena ilusi uang (money illusion), dalam arti konsumen selalu melihat kekayaan atau pendapatan mereka tidak hanya dalam nilai nominal, tapi juga nilai riil.

Seorang konsumen juga diasumsikan selalu berusaha memaksimumkan kepuasan. Dengan waktu yang terbatas (24 jam sehari), konsumen dihadapkan dengan pilihan antara bekerja atau tidak bekerja, dan harus senantiasa mempertahankan kepuasan yang maksimum.

Dengan bekerja, konsumen akan memperoleh pendapatan (y), dan karena itu memperoleh kepuasan (U). Semakin besar pendapatan, maka kecenderungannya semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, dan sebaliknya. 

Sama halnya jika konsumen tidak bekerja. Jika konsumen tidak bekerja, berarti lebih banyak waktu yang bisa digunakan untuk bersantai (leisure time/S). Dengan berleha-leha, konsumen pun memperoleh kepuasan. Kecenderungannya adalah semakin banyak waktu berleha-leha, semakin tinggi kepuasannya, dan sebaliknya.

Gambar 3 berikut ini menjelaskan bagaimana tenaga kerja menentukan pengalokasian waktu luang di antara dua pilihan, bekerja dan tidak bekerja.

Gambar 3. Keseimbangan Alokasi Waktu Luang

 

Gambar 3 menjelaskan keseimbangan konsumen dalam mengalokasikan waktu luang (0T). Ketika upah riil yang berlaku adalah (W/P)1, keseimbangan konsumen ada pada titik E1 dengan alokasi waktu sebesar TS1 dan pendapatan yang diperoleh y1 = [(W/P)1 (TS)1]. 

Jika upah riil naik menjadi (W/P)2, keseimbangan konsumen berubah menjadi E2. Waktu luang yang digunakan untuk bekerja naik dari TS1 menjadi TS2, dan pendapatan pun naik menjadi y2 = [(W/P)2 (TS)2]. Kalau kita hubungkan dua titik keseimbangan tadi, maka akan terbentuk kurva TL yang menggambarkan keseimbangan alokasi waktu luang.

Sekarang kita akan membahas mengenai sikap konsumen dalam menawarkan waktunya untuk bekerja. Coba perhatikan gambar berikut ini!

Gambar 4. Penawaran Waktu Kerja

 

Gambar 4 menjelaskan hubungan antara penawaran waktu kerja dengan tingkat upah riil yang berlaku pada titik-titik keseimbangan alokasi waktu luang. Ketika upah riil adalah (W/P)1, konsumen mau menawarkan waktu kerjanya sebesar TS1. Lalu ketika upah riil naik menjadi (W/P)2, jumlah waktu kerja yang ditawarkan konsumen meningkat menjadi TS2. Jadi ada hubungan positif antara upah riil dengan penawaran waktu kerja. Hubungan positif ini ditunjukkan sebagai kurva penawaran tenaga kerja LS. Model Klasik merumuskan penawaran tenaga kerja agregat sebagai fungsi dari tingkat upah riil: LS = LS(W/P); dLS/d(W/P) > 0.

 

Referensi Utama:

Kusnendi (2002). Seri Kuliah Teoritika Ekonomi – Teori Makroekonomi I (Model Fluktuasi Ekonomi Jangka Pendek)

Leave a Reply

Your email address will not be published.