Teori Preferensi Likuiditas

Dalam buku klasiknya The General Theory, Keynes menjabarkan pandangannya tentang bagaimana tingkat bunga ditentukan dalam jangka pendek. Pandangan tersebut kemudian dikenal juga sebagai teori preferensi likuiditas (liquidity preference theory), yang menyatakan bahwa tingkat bunga akan menyesuaikan untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar uang.

Penawaran Uang

Untuk menjelaskan teori ini, kita mulai pembahasan dengan menganalisis sisi penawaran uang terlebih dahulu. Dalam kerangka teori preferensi likuiditas, besar kecilnya penawaran uang (Ms) diasumsikan ditentukan oleh otoritas moneter atau Bank Sentral. Karena itu penawaran uang diberlakukan sebagai variabel eksogen.

Penawaran uang Ms yang diberlakukan sebagai variabel eksogen menjadikannya sebagai kebijakan eksogen yang dipilih oleh bank sentral untuk mengendalikan jalannya perekonomian. Lalu jika kita menempatkan penawaran uang terhadap tingkat bunga, maka akan diperoleh bentuk kurva penawaran yang vertikal sebagaimana ditunjukkan Gambar 1 berikut ini. 

Gambar 1. Penawaran Uang

 

Kurva penawaran uang adalah vertikal karena penawaran uang tidak tergantung pada tingkat bunga. Besar kecilnya penawaran uang semata-mata ditentukan oleh kebijakan bank sentral.

Permintaan Uang

Jika penawaran uang diberlakukan sebagai variabel eksogen, maka permintaan uang oleh Keynes dianggap sebagai variabel endogen. Faktor apa yang menentukan besar kecilnya permintaan uang? Terkait hal tersebut, Keynes kemudian menjelaskan bahwa terdapat tiga motif yang melandasi orang memerlukan uang, yaitu motif transaksi (transaction motive), motif berjaga-jaga (precautionary motive), dan motif spekulasi (speculative motive).

1.  Motif Transaksi

Permintaan uang untuk transaksi (transaction demand for money, Lt) didorong oleh fakta bahwa pendapatan yang diterima seringkali tidak bersamaan waktunya dengan keperluan transaksi yang harus dilakukan. Dan untuk mempermudah pembayaran, maka orang memerlukan uang tunai. Motif ini biasanya didasari oleh perilaku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang bersifat rutinitas. 

Besarnya ketersediaan dana untuk keperluan transaksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup berhubungan erat dengan tingkat pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka semakin banyak jumlah barang dan jasa yang bisa dibeli, dan oleh karena itu semakin tinggi pula kebutuhan uang tunai untuk tujuan transaksi.

2.  Motif Berjaga-jaga

Permintaan uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand for money, Lp) dilandasi oleh munculnya harapan untuk dapat membiayai berbagai keperluan yang tidak terduga, dan dapat terjadi sewaktu-waktu. Misalnya biaya untuk perbaikan mobil atau pengobatan di rumah sakit. 

Saat pengeluaran tak terduga itu benar-benar terjadi, maka orang tentu membutuhkan uang tunai. Kecenderungannya adalah semakin tinggi pendapatan, maka semakin besar pula uang yang dapat disisihkan untuk keperluan berjaga-jaga. Begitupun sebaliknya.

Atas dasar dua motif awal ini, Keynes mengelompokkan keduanya sebagai L1. Dengan menggabungkan persamaan motif transaksi dan berjaga-jaga, diperoleh fungsi permintaan uang L1 seperti berikut ini.

Persamaan di atas menyatakan bahwa pemintaan L1 secara positif dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin besar permintaan uang L1, dan sebaliknya. Gambar 2 berikut ini menggambarkan kurva permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga (L1).

Gambar 2. Permintaan Uang untuk Transaksi dan Berjaga-jaga

 

Permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, bukan oleh tingkat bunga. Saat permintaan uang tersebut ditempatkan terhadap tingkat bunga, maka diperoleh kurva permintaan uang L1 yang vertikal. 

Ketika pendapatan sebesar Y0, jumlah permintaan uang L1 adalah adalah L1o, dan ketika pendapatan naik menjadi Y1, permintaan uang L1 juga naik menjadi L11. Pada Gambar 2, kenaikan tersebut ditunjukkan oleh pergeseran ke kanan dari kurva permintaan uang L1 menjadi L11

3.  Motif Spekulasi 

Permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga merupakan permintaan uang yang sifatnya aktif. Artinya uang selalu digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan. Lain halnya dengan permintaan uang untuk tujuan spekulasi (L2) yang sifatnya tidak aktif atau merupakan idle money

Perbedaan lainnya yaitu bahwa L1 menunjukkan permintaan uang dari fungsinya sebagai medium of exchange, sementara L2 menunjukkan permintaan uang dari fungsinya sebagai store of value (alat penimbun kekayaan). Gagasan mengenai permintaan uang untuk tujuan spekulasi inilah yang membedakan teori makroekonomi Keynes dengan teori makroekonomi Klasik.

Menurut Keynes, motivasi seseorang membutuhkan uang tunai untuk spekulasi adalah untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan yang diperoleh yaitu berupa capital gain (kenaikan dari nilai aset dan biasanya terealisasi ketika aset tersebut dijual). Dalam pandangan Keynes, di samping sebagai alat tukar, uang juga dipandang sebagai salah satu bentuk kekayaan (portofolio). Bentuk kekayaan yang dapat dipegang selain uang tunai yaitu dalam bentuk surat berharga, misalnya obligasi.

Dikutip dari Otoritas Jasa Keuangan, Obligasi adalah surat utang jangka menengah atau jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisi janji dari pihak yang menerbitkan Efek untuk membayar imbalan berupa bunga (kupon) pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan, kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi merupakan salah satu investasi Efek berpendapatan tetap yang bertujuan untuk memberikan tingkat pertumbuhan nilai investasi yang relatif stabil dengan risiko yang relatif lebih stabil juga, dibandingkan dengan saham.   

Keynes berpendapat bahwa orang harus menentukan keputusan mengenai bentuk kekayaan yang akan dipegang, apakah dalam bentuk uang tunai atau surat berharga. Jika seseorang memilih memegang uang tunai, maka kelebihannya ialah ia memiliki kekayaan dalam bentuk yang paling likuid, yang siap digunakan sewaktu-waktu. Namun kerugiannya, ia tidak bisa memperoleh berbagai bentuk penghasilan yang mungkin diperoleh jika kekayaan dipegang dalam bentuk surat berharga.

Sebaliknya, jika kekayaan dipegang dalam bentuk surat berharga, keuntungan yang bisa diperoleh adalah penghasilan bunga dan juga capital gain yang mungkin diperoleh dari perubahan harga surat berharga. Namun kerugiannya, kekayaan yang dimiliki menjadi kurang likuid. Selain itu, ada juga kemungkinan seseorang mengalami capital loss (kerugian kapital) sebagai akibat dari turunnya harga surat berharga.

Surat berharga (dalam hal ini obligasi), memiliki harga nominal dan harga pasar. Harga nominal tersebut umumnya tidak sama dengan harga pasarnya. Harga surat berharga di pasar akan sangat tergantung pada tingkat bunga yang berlaku, dan tingkat bunga ini seringkali tidak sama dengan tingkat bunga nominal surat berharga. Perlu kamu ketahui, bahwa harga pasar surat berharga memiliki hubungan terbalik dengan tingkat bunga yang berlaku. Hubungan tersebut dapat dirumuskan dalam persamaan berikut ini:

di mana PSB menunjukkan harga surat berharga, R ialah penghasilan bunga dari pemilikan surat berharga, dan i merupakan tingkat bunga yang berlaku di pasar. 

Sebagai contoh, andaikan terdapat surat berharga bernilai Rp100.000.000,00 dengan bunga nominal 9% per tahun, maka penghasilan bunga per tahun yang diperoleh dari pemilikan surat berharga ini adalah sebesar Rp9.000.000,00 per tahun. Lalu seandainya jika tingkat bunga yang berlaku di pasar sebesar 12% per tahun, maka harga pasar surat berharga tersebut adalah Rp75.000.000,00, yang diperoleh dari: 

Hal tersebut menandakan bahwa dengan tingkat bunga yang berlaku di pasar sebesar 12% per tahun, maka orang mau membeli surat berharga tersebut jika harganya Rp75.000.000,00, dan bukan Rp100.000.000,00. 

Apa yang akan terjadi pada harga surat berharga jika suku bunga di pasar berubah? Misalkan suku bunga yang berlaku turun menjadi 10%, maka harga pasar surat berharga akan naik menjadi Rp90.000.000,00. Jadi kesimpulannya, harga pasar surat berharga memiliki hubungan terbalik dengan tingkat bunga yang berlaku. Jika tingkat bunga yang berlaku tinggi, maka harga pasar surat berharga menjadi rendah. Begitupun sebaliknya.

Karena harga pasar surat berharga bisa berubah-ubah, maka orang dapat melakukan spekulasi untuk memperoleh keuntungan (capital gain). Mereka melakukannya dengan membeli surat berharga ketika harganya murah, dan menjualnya ketika harganya tinggi. Namun pertanyaannya, bagaimana orang dapat memperkirakan perubahan harga surat berharga?

Cara yang dapat dilakukan untuk memprediksi perubahan harga surat berharga yaitu dengan memperkirakan kemungkinan tingkat bunga yang akan berlaku di masa datang. Seperti kita ketahui bahwa harga pasar surat berharga berhubungan terbalik dengan tingkat bunga. Karena itu, jika di masa datang diperkirakan tingkat bunga akan naik, maka orang akan memiliki harapan atau perkiraan bahwa harga surat berharga di masa datang akan turun. Oleh karena itu, untuk menghindari capital loss, orang cenderung untuk tidak membeli surat berharga sekarang. Sebaliknya, orang akan lebih suka memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai daripada surat berharga.

Sementara itu jika keadaan sebaliknya terjadi, di mana tingkat bunga di masa datang diperkirakan akan turun, maka harga pasar surat berharga di masa datang pun diperkirakan akan naik. Jadi, sangatlah logis jika orang memutuskan untuk membeli surat berharga sekarang dan menjualnya kembali di masa datang ketika harganya naik.

Liquidity Trap

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan untuk memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai atau surat berharga ditentukan oleh tingkat bunga yang berlaku di masa datang. Jika tingkat bunga di masa datang diperkirakan turun (yang berarti bahwa harga pasar surat berharga di masa datang diperkirakan naik), maka orang cenderung akan memilih memegang kekayaan dalam bentuk surat berharga. Sebaliknya, jika tingkat bunga di masa datang diperkirakan naik (yang berarti harga pasar surat berharga di masa datang diperkirakan turun), maka orang cenderung akan memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai.

Dari kesimpulan tersebut, Keynes lalu menyatakan bahwa permintaan uang untuk spekulasi secara negatif dipengaruhi oleh tingkat bunga. 

Persamaan tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga (yang berarti harga surat berharga rendah), maka akan semakin rendah permintaan uang untuk spekulasi. Dengan kata lain, orang cenderung tidak suka memegang uang tunai, melainkan lebih suka membeli atau menimbun kekayaan dalam bentuk surat berharga. Begitupun sebaliknya.

Hubungan terbalik antara tingkat bunga dan permintaan uang untuk spekulasi ditunjukkan oleh Gambar 3 berikut ini. 

Gambar 3. Permintaan Uang untuk Spekulasi

 

Dalam Gambar 3 terlihat kurva permintaan uang untuk spekulasi memiliki kemiringan yang negatif. Semakin rendah tingkat bunga, semakin tinggi jumlah permintaan uang untuk tujuan spekulasi. Namun pada tingkat bunga yang paling rendah yang pernah dicapai (i*), orang akan cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang tunai ketimbang surat berharga. Mengapa demikian?

Ketika suku bunga berada pada tingkat yang paling rendah, harga pasar surat berharga menjadi sangat tinggi. Mengingat suku bunga sangat jarang turun sampai nol persen, hal ini mengakibatkan perkiraan semua orang mengenai tingkat bunga di masa depan menjadi sama, yaitu akan naik. Artinya, perkiraan orang mengenai harga surat berharga di masa datang juga sama, yaitu akan turun. Karena orang memiliki perkiraan yang sama bahwa harga surat berharga akan turun di masa depan, maka pada tingkat bunga yang paling rendah yang pernah dicapai (i*), semua orang cenderung lebih suka memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai dibanding surat berharga.

Dengan memegang kekayaan dalam bentuk uang tunai dan bukan surat berharga, maka risiko timbulnya capital loss sebagai akibat penurunan harga surat berharga di masa datang dapat dihindari. Karena itu, pada tingkat bunga yang paling rendah, permintaan uang untuk spekulasi menjadi bersifat elastis sempurna terhadap tingkat bunga. Keadaan seperti ini oleh Keynes disebut sebagai perangkap likuiditas (liquidity trap), di mana permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi tak terhingga, sebab semua orang cenderung lebih suka memegang uang tunai dibanding surat berharga.

Permintaan Uang Total (Total Demand for Money)

Permintaan uang total merupakan penjumlahan dari permintaan uang untuk keperluan transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi.

Gambar 4 berikut menampilkan kurva permintaan uang total. Ketika pendapatan sebesar Y1, kurva permintaan uang total yang sesuai adalah LA. Pada kurva permintaan uang LA, jika tingkat bunga yang berlaku adalah i1, maka besarnya permintaan uang adalah sebesar L.

Lalu ketika tingkat bunga turun menjadi i2, permintaan uang menjadi L. Kalau kamu perhatikan, kurva permintaan uang memiliki kemiringan negatif karena tingkat bunga yang lebih tinggi mengurangi jumlah uang yang diminta.      

Gambar 4. Kurva Permintaan Uang Total

 

Apa yang akan terjadi terhadap kurva permintaan total jika pendapatan meningkat dari Y1 menjadi Y2? Mula-mula permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga (L1) meningkat. Karena permintaan uang total terdiri atas L1 dan L2, maka pada Gambar 4 ditunjukkan bahwa kenaikan permintaan uang L1 ini akan menggeser kurva permintaan uang total ke kanan menjadi LB. Hal ini berarti dengan pendapatan yang lebih tinggi, jumlah uang yang diminta pada berbagai tingkat bunga menjadi lebih tinggi pula.

Keseimbangan Pasar Uang (Equilibrium of Money Market)

Setelah kita menjelaskan mengenai penawaran dan permintaan uang, keduanya kemudian akan bertemu di pasar uang untuk menentukan keseimbangan pasar uang. Kondisi keseimbangan akan tercapai jika jumlah penawaran uang sama dengan jumlah permintaan uang. Secara matematis, kondisi keseimbangan pasar uang dapat dinyatakan sebagai berikut:

Gambar 5 di bawah menampilkan keseimbangan pasar uang. Ketika penawaran uang atau jumlah uang beredar adalah Ms1, keseimbangan pasar uang terjadi di titik E1 dengan tingkat bunga keseimbangan i1.   

Gambar 5. Keseimbangan Pasar Uang

 

Menurut teori preferensi likuiditas, Bank Sentral dapat mempengaruhi tingkat bunga keseimbangan dengan mengubah jumlah penawaran uang. Anggaplah Bank Sentral membuat kebijakan dengan meningkatkan jumlah uang beredar menjadi Ms2. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan di pasar uang di mana penawaran melebihi permintaan uang sebesar E1A. Konsekuensinya bunga akan didorong turun menjadi E2. Turunnya tingkat bunga ini kemudian akan meningkatkan permintaan uang untuk spekulasi L2, sehingga pasar uang mencapai posisi keseimbangan baru di titik E2. Hal sebaliknya akan terjadi jika Bank Sentral mengurangi jumlah uang beredar. 

Dari penjelasan tersebut, teori preferensi likuiditas kemudian menyimpulkan bahwa kenaikan dalam penawaran uang akan menurunkan tingkat bunga, dan penurunan dalam penawaran uang akan menaikkan tingkat bunga. Namun apakah penambahan penawaran uang secara efektif dapat terus menurunkan tingkat bunga keseimbangan? 

Jawabannya adalah tidak. Menurut teori preferensi likuiditas, pada tingkat bunga terendah yang pernah dicapai, kurva permintaan uang menjadi elastis sempurna dan perekonomian menghadapi perangkap likuiditas. Jadi, pada kasus perangkap likuiditas, naik turunnya jumlah penawaran uang tidak mempengaruhi tingkat bunga keseimbangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.