Maksimisasi Laba Pada Perusahaan Kompetitif

Setiap perusahaan dalam pasar persaingan sempurna memiliki tujuan dan keinginan untuk memperoleh laba maksimal, yang sama dengan pendapatan total dikurangi dengan biaya total. Pada tulisan terdahulu kita telah membahas mengenai pendapatan perusahaan dan biaya-biaya yang harus ditanggung perusahaan. Dan sekarang kita akan menelaah bagaimana perusahaan kompetitif memaksimalkan labanya. 

Contoh Sederhana Tentang Maksimisasi Laba

Untuk memulai analisis tentang bagaimana perusahaan memaksimalkan labanya, berikut disajikan data mengenai pendapatan dan biaya dari sebuah perusahaan penghasil susu Morymory.

Tabel 1

Kuantitas Harga Pendapatan Total Pendapatan Marjinal Biaya Total Biaya Rata-rata Biaya Marjinal Laba
(Q) (P = AR) (TR) (MR = ΔTR/ΔQ) (TC) (AC) (MC = ΔTC/ΔQ) (TR – TC)
galon $6 $0 $3 -$3
1 6 6 $6 5 $5 $2 1
2 6 12 6 8 4 3 4
3 6 18 6 12 4 4 6
4 6 24 6 17 4,25 5 7
5 6 30 6 23 4,6 6 7
6 6 36 6 30 5 7 6
7 6 42 6 38 5,43 8 4
8 6 48 6 47 5,88 9 1

Pada Tabel 1 di atas, kolom pertama menunjukkan jumlah galon susu yang dihasilkan oleh peternakan Morymory. Kolom kedua menunjukkan harga susu per galon, yang sekaligus merupakan penerimaan marjinal dari setiap galon yang terjual. Kolom ketiga dan keempat masing-masing menunjukkan pendapatan total dan pendapatan marjinal.

Selanjutnya pada kolom kelima ditunjukkan besarnya biaya total yang harus ditanggung perusahaan. Biaya total mencakup biaya tetap yang dalam contoh ini adalah $3, sedangkan biaya variabelnya tergantung pada kuantitas susu yang dihasilkan. Lalu kolom keenam dan ketujuh masing-masing menunjukkan biaya rata-rata dan biaya marjinal dari setiap galon susu yang dihasilkan. Sementara itu kolom terakhir memperlihatkan laba perusahaan yang dapat dihitung dari pengurangan pendapatan total oleh biaya total.

Untuk memaksimalkan laba, perusahaan Morymory harus memilih kuantitas produksi tertentu yang akan membuahkan laba terbesar. Dalam contoh ini, laba akan maksimal jika perusahaan Morymory menghasilkan empat atau lima galon susu, dan laba yang dihasilkannya mencapai $7.

Laba maksimum dapat diperoleh dengan mencari kuantitas yang akan menghasilkan selisih terbesar positif antara pendapatan total (TR) dengan biaya total (TC). Selain itu ada juga cara lain yang bisa digunakan untuk menentukan kuantitas yang akan memaksimalkan laba, yaitu dengan membandingkan pendapatan marjinal (MR) dengan biaya marjinal (MC) dari setiap unit susu yang dihasilkannya.  

Selama pendapatan marjinal melampaui biaya marjinal, maka peningkatan kuantitas produksi akan memperbesar laba. Galon susu pertama hingga keempat, menghasilkan laba yang terus meningkat. Namun, begitu perusahaan Morymory mencapai produksi sebanyak lima galon susu, situasinya menjadi berbeda. Pada galon susu kelima, pendapatan marjinal sama dengan biaya marjinal (MR = MC), sehingga laba mencapai maksimum sebesar $7.  

Sementara itu, saat galon susu keenam akan memberikan pendapatan marjinal sebesar $6, tetapi biaya marjinal yang ditimbulkannya mencapai $7. Oleh sebab itu, produksi pada tahap ini justru akan menurunkan laba sebesar $1 (yakni, dari $7 menjadi $6). Dengan demikian, perusahaan Morymory harus memproduksi tidak lebih dari lima galon susu.

Grafik Maksimisasi Laba Jangka Pendek

Guna mengembangkan analisis kita mengenai maksimisasi laba, selain menggunakan angka-angka, kita juga bisa menggunakan grafik sebagaimana tersaji dalam Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Menentukan Laba Maksimum

 

Perhatikan Gambar 1 di atas. Kurva TC awalnya berada di atas kurva TR. Hal ini hanya berlangsung ketika perusahaan sama sekali belum memproduksi susu. Keadaan di mana kurva TC berada di atas kurva TR menggambarkan bahwa perusahaan mengalami kerugian.

Lalu saat perusahaan mulai memproduksi susu hingga 8 galon, situasinya mulai berubah. Perusahaan mulai memperoleh laba, di mana kurva TC berada di bawah kurva TR. Kalau dibuat garis tegak di antara TC dan TR, garis tegak yang terpanjang adalah pada keadaan di mana produksi adalah 5 unit. Garis tegak terpanjang ini menggambarkan keuntungan yang maksimum.

Apabila perusahaan memproduksi susu lebih dari 8 galon, maka kurva TC akan kembali berada di atas kurva TR, yang berarti bahwa perusahaan mengalami kerugian kembali. Sementara itu perpotongan antara kurva TC dan kurva TR menggambarkan titik impas (break even point), di mana biaya total yang dikeluarkan perusahaan adalah sama dengan hasil penjualan total yang diterimanya.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk menggambarkan maksimisasi laba yaitu dengan menggunakan pendekatan biaya marginal dan pendapatan marjinal. Seperti halnya Gambar 1, Gambar 2 berikut ini dibuat didasarkan kepada angka-angka yang terdapat dalam Tabel 1. Kurva-kurva yang dibuat antara lain P, MR, MC, dan AC.

Gambar 2. Kurva Laba Maksimum Pendekatan Biaya Marjinal dan Pendapatan Marjinal

 

Laba maksimum tercapai ketika perusahaan memproduksi barang, di mana biaya marjinal sama dengan pendapatan marjinal. Seperti yang ditampilkan dalam Gambar 2, keadaan MC = MR tercapai saat produksi sebesar 5 unit. Dan besarnya laba maksimum ditunjukkan oleh luas kotak yang diarsir.   

Tiga Kemungkinan Kondisi Perusahaan Dalam Jangka Pendek

Meski semua perusahaan berusaha untuk memaksimalkan labanya, namun bukan berarti bahwa perusahaan akan selalu untung. Dalam jangka pendek, terdapat tiga kemungkinan kondisi yang bisa dialami perusahaan, antara lain:

  • memperoleh laba (super normal profit),

  • menderita kerugian (sub normal profit), dan

  • mengalami hasil impas (normal profit).

 

Memperoleh Laba

Sebuah perusahaan dikatakan memperoleh laba apabila mampu menjual barang dengan harga (P) di atas biaya rata-rata (AC). Namun jika perusahaan ingin agar laba tersebut maksimum, maka harus dicapai kondisi di mana biaya marjinal (MC) sama dengan pendapatan marjinal (MR).

Gambar 3. Super Normal Profit (Laba)

 

Mengalami Hasil Impas

Di pasar persaingan sempurna, laba hanya akan diperoleh dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, adanya laba tersebut akan menarik perusahaan-perusahaan baru masuk ke pasar. Hal tersebut kemudian menyebabkan bertambahnya penawaran, sehingga menimbulkan penurunan harga. Dengan asumsi biaya produksi tidak berubah, maka turunnya harga menurunkan laba hingga akhirnya perusahaan hanya memperoleh hasil impas (normal profit).

Gambar 4. Normal Profit (Impas)

 

Gambar 4 di atas menggambarkan keadaan di mana perusahaan memperoleh hasil impas (normal profit). Suatu perusahaan dikatakan memperoleh laba normal apabila pendapatan total (TR) sama dengan biaya totalnya (TC), atau pendapatan rata-rata (AR) sama dengan biaya rata-ratanya (AC)

 

Menderita Kerugian

Sejauh ini kita telah menganalisis situasi di mana perusahaan memperoleh laba ataupun hasil impas. Namun dalam situasi tertentu, perusahaan justru harus menderita kerugian. Dalam situasi seperti ini, perusahaan harus memutuskan apakah akan menghentikan produksinya untuk sementara waktu atau tetap melanjutkan usahanya.

Gambar 5. Rugi Sebagian Biaya Tetap

 

Gambar 5 menunjukkan keadaan di mana perusahaan menderita rugi, namun masih bisa tetap beroperasi. Dalam situasi ini, harga (P) lebih rendah dari biaya rata-rata (AC), tetapi lebih tinggi dari biaya variabel rata-rata (AVC). Gambaran seperti ini mengartikan bahwa perusahaan mampu menutupi seluruh biaya variabelnya, namun belum mampu menutupi biaya tetapnya.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan akan tetap beroperasi, karena kalau tidak ia akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi, yaitu sebesar biaya tetap yang dikeluarkannya. Perusahaan akan terus beroperasi sampai pada tingkat di mana MR = MC, karena pada tingkat ini akan meminimumkan kerugian yang dideritanya. 

Dalam situasi di mana kerugian sudah sangat besar, perusahaan harus memutuskan apakah akan menutup usahanya untuk sementara waktu, atau justru menutup usahanya secara permanen. Kita menggunakan istilah “tutup” (shutdown) yang mengacu pada keputusan jangka pendek untuk tidak berproduksi selama periode tertentu karena kondisi pasar yang memaksa. Sedangkan istilah “keluar” (exit) mengacu pada keputusan jangka panjang untuk meninggalkan pasar sama sekali. 

Gambar 6. Perusahaan Menutup Usaha Sementara

 

Gambar 6 menunjukkan kondisi di mana harga (P) sama dengan biaya variabel rata-rata (AVC) namun lebih rendah dibanding biaya rata-ratanya (AC). Apabila perusahaan menghadapi keadaan seperti ini, sebaiknya perusahaan menghentikan produksinya untuk sementara waktu (shutdown). Walaupun perusahaan menghasilkan barang, ia sama sekali tidak dapat memperoleh pendapatan untuk menutupi biaya tetap yang telah dikeluarkan.

Saat perusahaan memutuskan untuk sementara berhenti berproduksi, ia kemudian akan menunggu sambil mengamati perubahan-perubahan yang ada di pasar. Di masa mendatang perusahaan dapat berproduksi lagi jika kondisinya sudah berubah sedemikian rupa sehingga harga dapat melebihi biaya variabel rata-rata.

Andaikan di masa datang harga turun di bawah biaya variabel rata-rata, maka akan lebih baik jika perusahaan itu tutup permanen dan keluar dari pasar. Gambar 7 berikut menampilkan kondisi di mana perusahaan harus berhenti beroperasi secara permanen.

Gambar 7. Perusahaan Berhenti Beroperasi Secara Permanen

 

Saat harga (P) berada di bawah biaya variabel rata-rata (AVC), maka besarnya pendapatan total (TR) tidak mampu menutupi total biaya variabel (VC). Sekiranya perusahaan menghadapi kondisi seperti ini, maka tidak ada gunanya bagi perusahaan untuk melanjutkan kegiatan memproduksi, sehingga lebih baik perusahaan keluar (exit) dari pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.