Teori Produksi Jangka Panjang (Isoquant Curve)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai teori produksi jangka pendek. Dalam jangka pendek, perusahaan tidak dapat menambah faktor produksi yang dianggap tetap (fixed input), dalam hal ini adalah modal. Jadi dalam kurun waktu ini, output hanya dapat diubah jumlahnya dengan jalan mengubah faktor produksi variabel (tenaga kerja) yang digunakan dengan peralatan/mesin yang ada.

Berbeda dengan teori produksi jangka pendek, dalam jangka panjang perusahaan dapat mengubah jumlah tenaga kerja maupun modal. Dengan kata lain, jangka panjang merupakan jangka watu di mana semua input atau faktor produksi bersifat variabel (dapat diubah-ubah jumlahnya). 

Karena semua input bersifat variabel, maka bentuk fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut.

di mana:

Y = jumlah ouput

L = jumlah tenaga kerja

K = jumlah modal

Perlu kamu ketahui bahwa periode jangka panjang ini tidak ada hubungannya dengan ukuran waktu tertentu, misalnya 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya. Dalam suatu industri mungkin jangka panjang itu 1 tahun, namun bagi industri lain bisa saja lebih dari 1 tahun. Jadi, penetapan jangka panjang (atau jangka pendek) ini hanya dapat dipahami dengan melihat apakah semua input bersifat variabel atau tidak.

Isoquant Curve

Karakteristik produksi jangka panjang adalah bahwa semua faktor produksi dapat mengalami perubahan. Produsen dapat mengubah kombinasi penggunaan modal dan tenaga kerja untuk mencapai hasil tertentu. Kita bisa menggunakan alat analisis yang hampir sama dengan yang dipergunakan dalam teori perilaku konsumen.

Ingatkah kamu dengan Indifference Curve? Yaitu kurva yang menggambarkan kombinasi konsumsi dua komoditi yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama. Nah, dalam teori produksi yang harus dibuat sama bukan tingkat kepuasan, melainkan tingkat produksi dengan berbagai kombinasi pemakaian dua macam input variabel, yaitu modal dan tenaga kerja.

Alat analisis yang digunakan untuk menggambarkan kombinasi penggunaan dua macam faktor produksi yang menghasilkan jumlah output yang sama dikenal juga dengan nama Kurva Isokuan (Isoquant Curve). Secara harfiah, “Iso” berarti sama, sedangkan “Quant” berarti jumlah/kuantitas. 

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kurva isokuan, perhatikan tabel berikut ini!

Tabel 1

Kombinasi Tenaga Kerja Modal
A 1 6
B 2 3
C 3 2
D 6 1

 

Tabel di atas menunjukkan kombinasi modal dan tenaga kerja yang digunakan perusahaan untuk memproduksi sepatu. Misalnya pada kombinasi A, perusahaan menggunakan 1 pekerja dan 6 unit modal dapat menghasilkan 1000 unit sepatu. Begitupun dengan kombinasi lainnya, produsen dapat menghasilkan sepatu dengan jumlah yang sama. 

Jika data pada tabel kita gambarkan dalam sebuah kurva, maka akan terbentuk Kurva Isokuan sebagaimana ditunjukkan oleh gambar berikut ini.

Gambar 1. Isoquant Curve

 

Karakteristik Isoquant Curve

Isoquant curve memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan Indifference curve, antara lain sebagai berikut.

1.  Memiliki Slope (Kemiringan) yang Negatif

Titik-titik di sepanjang isoquant curve menggambarkan kombinasi penggunaan modal dan tenaga kerja yang menghasilkan jumlah output yang sama. Untuk mempertahankan jumlah output yang sama, tentunya penambahan di salah satu input harus mengorbankan input lainnya. Dengan kata lain, saat produsen menambah jumlah tenaga kerja misalnya, maka kompensasinya jumlah modal harus dikurangi. Begitupun sebaliknya. Hal inilah yang membuat isoquant curve memiliki bentuk yang mengarah ke bawah (downward sloping)

2.  Cembung ke Arah Ordinat

Bentuk kurva cembung ini didasarkan pada asumsi tingkat subtitusi teknis marjinal (marginal rate of technical substitution) yang terus berkurang. Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) didefinisikan sebagai jumlah salah satu input yang harus dikorbankan dan digantikan oleh input lain untuk mempertahankan jumlah output yang sama.

Kita ambil contoh dari Tabel 1. Saat produsen mengubah kombinasi dari A menjadi B, produsen harus mengorbankan 3 unit modal untuk menambah 1 tenaga kerja. Dengan demikian, tingkat substitusi teknis marjinalnya yaitu sebesar 3 : 1.

Kemudian jika produsen menambah 1 tenaga kerja lagi, maka produsen harus mengorbankan 1 unit modal (MRTS 1 : 1). Lalu jika produsen kembali menambah 3 tenaga kerja, jumlah modal yang harus dikorbankan sebanyak 1 unit (MRTS 0,33 : 1). Jika kita perhatikan, nilai MRTS ternyata terus menurun.

Gambar 2. MRTS Secara Grafis

 

3.  Semakin ke Kanan, Semakin Banyak Output yang Dihasilkan

Jika diminta menentukan pilihan, tentunya produsen akan memilih tingkat produksi yang paling tinggi dengan jumlah input yang sudah tertentu. Posisi Isoquant yang lebih tinggi (lebih ke kanan) menggambarkan jumlah tenaga kerja dan modal yang lebih banyak. Posisi Isoquant tersebut dapat memberikan jumlah hasil produksi yang lebih tinggi.

Gambar 3. Posisi Isoquant

 

4.  Sesama Isoquant Curve Tidak Saling Berpotongan

Untuk mengetahui lebih jelas mengapa sesama Isoquant Curve tidak saling berpotongan, perhatikan gambar berikut ini!

Gambar 4. Isoquant-Isoquant yang Saling Berpotongan

 

Secara definitif, Isoquant curve menggambarkan berbagai kombinasi penggunaan input yang menghasilkan output yang sama. Sekarang andaikan Q1 dan Q2 berpotongan di titik A, maka jumlah output titik A dan titik B adalah sama (berada di Q1). Lalu, jumlah output di titik A dan titik C pun adalah sama (berada di Q2).

Sesuai asumsi konsistensi, karena A = B dan A = C, maka seharusnya B = C. Artinya adalah bahwa produsen harus memproduksi jumlah output yang sama di titik B dan C. Namun pada kenyataannya kombinasi B lebih banyak menggunakan modal daripada kombinasi C. Jadi secara logis, berdasarkan asumsi tadi, produsen mustahil memperoleh jumlah output yang sama dari kombinasi B dan C. Itulah sebabnya Isoquant Curve tidak mungkin saling berpotongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.