Masalah Pokok Ekonomi Klasik

Bila kita ingat kembali pembahasan mengenai materi pengantar ilmu ekonomi, kita akan menemukan konsep kelangkaan atau keterbatasan (scarcity). Kelangkaan merupakan situasi di mana jumlah sumber daya yang ada tidak mampu memenuhi semua kebutuhan manusia yang sifatnya tidak terbatas. Keadaan inilah yang menciptakan masalah ekonomi (the economic problem), bahkan kelangkaan dianggap oleh para ekonom sebagai inti masalah ekonomi.

Kelangkaan merupakan masalah yang dihadapi semua orang. Berangkat dari hal tersebut, kemudian dikembangkanlah suatu ilmu yang mempelajari cara-cara yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak terbatas, dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Ilmu itu adalah Ilmu Ekonomi.

Dengan berkembangnya ilmu ekonomi, masalah ekonomi pun kemudian dilihat para ekonom dari perspektif yang berbeda. Menurut ekonom mazhab Klasik, dikemukakan bahwa permasalahan ekonomi merupakan suatu kesatuan yang terdiri atas masalah produksi, masalah distribusi, dan masalah konsumsi. Berikut penjelasannya.

1. Masalah Produksi

Secara bahasa, istilah “Produksi” berasal dari bahasa Inggris, yaitu “to produce” yang artinya menghasilkan. Namun secara luas, Produksi diartikan sebagai suatu kegiatan menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan. Pelaku kegiatan produksi ini (baik individu maupun lembaga) disebut dengan istilah produsen. Sementara ouput yang dihasilkan disebut dengan produk (barang atau jasa).

Untuk bisa menghasilkan barang dan jasa, diperlukan sumber-sumber ekonomi berupa input atau faktor produksi yang meliputi tanah atau sumber daya alam (land), tenaga kerja atau sumber daya manusia (labor), modal (capital), dan kewirausahaan (entrepreneurship). Input-input tersebut diperlukan guna mendukung proses produksi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan produksi selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tujuan lainnya yaitu untuk memperoleh keuntungan. Seperti kita ketahui, di dalam ilmu ekonomi setiap produsen melakukan kegiatan produksi didasari atas motif mencari keuntungan. Nah, keuntungan inilah yang nantinya akan menunjang keberlangsungan usaha ke depannya.

Di dalam melakukan kegiatan produksi, tentu saja produsen harus mengetahui produk apa saja yang dibutuhkan konsumen. Jangan sampai produsen menjual produk yang tidak laku di pasaran. Selain itu, produsen juga harus mampu memperhitungkan seberapa banyak jumlah barang dan jasa harus diproduksi, jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. Jika persediaan terlalu sedikit, risiko persediaan akan semakin besar dan dapat menunda keuntungan bagi perusahaan. Sebaliknya, jika persediaan terlalu banyak, maka risiko kerusakan barang akan meningkat disertai dengan tingginya biaya operasional, biaya penyimpanan, dan lain-lain.

2. Masalah Distribusi

Setelah kegiatan produksi dilakukan, masalah berikutnya yang harus diselesaikan adalah bagaimana menyalurkan barang dan jasa hasil produksi dari produsen ke konsumen. Distribusi merupakan kegiatan menyampaikan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang atau organisasi yang melakukan kegiatan distribusi disebut distributor.

Distribusi menjadi bagian penting dari seluruh proses kegiatan ekonomi dewasa ini. Distribusi bahkan terkait erat dengan kegiatan pemasaran yang memudahkan proses penyampaian produk dari produsen ke konsumen, sehingga dapat mendorong kelancaran pemasaran.

Distribusi dapat dikatakan sebagai penghubung antara aktivitas produksi dan konsumsi. Melalui distribusi, produsen dapat memastikan apakah produk dapat diterima dengan baik oleh konsumen. Lalu bagaimana produk tersebut didistribusikan?

Sebenarnya terdapat dua saluran distribusi yang dapat digunakan produsen untuk memasarkan produknya. Pertama, yaitu melalui distribusi tidak langsung. Dengan metode ini, produk yang dihasilkan produsen akan dipasarkan melalui para distributor, agen, pengecer, reseller, ataupun dropshipper. Meski jalur distribusinya relatif panjang, cara ini juga memiliki kelebihan. Salah satunya yaitu dapat menjangkau daerah pemasaran yang lebih luas, sehingga produk yang dijual dapat tersebar di berbagai retail toko atau warung.

Cara kedua yaitu melalui metode distribusi langsung. Di masa sekarang, metode ini sangat populer seiring dengan berkembangnya internet dan e-commerce. Para produsen kini dapat langsung memasarkan produknya kepada pelanggan melalui saluran online seperti media sosial, website bisnis, dan marketplace.

Meski menjual produknya secara langsung, bukan berarti para produsen tidak dapat menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas. Para produsen dapat memanfaatkan perusahaan jasa pengiriman barang guna mendistribusikan produknya. Perusahaan jasa kurir akan memastikan bahwa barang yang dikirimkan kepada pelanggan akan diterima tepat pada waktunya.

Dengan menggunakan jasa perusahaan kurir, produsen kini tidak perlu lagi dipusingkan dengan urusan pengiriman barang. Setelah barang diserahkan pada perusahaan jasa kurir, produsen bisa memantau sejauh mana proses pengiriman berjalan. Hanya dengan melakukan Cek Resi pada website perusahaan jasa kurir, produsen dapat melacak keberadaan produknya. Dengan demikian, jarak ataupun waktu serta proses pengiriman bukanlah menjadi masalah lagi.

3. Masalah Konsumsi

Setelah barang dan jasa sampai ke konsumen, pertanyaan selanjutnya adalah apakah barang dan jasa tersebut dapat digunakan dengan baik oleh konsumen?

Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna barang dan jasa. Tujuannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan manusia dan juga kepuasan. Dalam ilmu ekonomi, konsumsi diartikan sebagai pembelanjaan barang dan jasa oleh rumah tangga. Bahkan menurut T. Gilarso (2003), konsumsi merupakan titik pangkal dan tujuan akhir dari seluruh kegiatan ekonomi masyarakat.

Ada beberapa ciri konsumsi yang bisa kita kenali, antara lain:

  • kegiatan dilakukan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan hidup manusia,
  • produk yang dikonsumsi memiliki nilai manfaat bagi manusia,
  • nilai guna produk yang digunakan dapat berkurang atau habis, dan
  • produk yang dikonsumsi umumnya merupakan barang ekonomi yang didapatkan dengan pengorbanan.

Tidak semua konsumen dapat menikmati jenis barang dan jasa berkualitas tinggi, apalagi dalam jumlah banyak. Banyak faktor yang mempengaruhi besar kecilnya konsumsi seseorang, antara lain pendapatan, selera, harga barang dan jasa, tingkat pendidikan, adat istiadat dan kebiasaan, jenis kelamin, dan jumlah keluarga. Dengan seiring berkembangnya zaman, tingkat dan pola konsumsi masyarakat pun berubah. Pada masyarakat tradisional, umumnya kegiatan konsumsi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara pada masyarakat modern, kegiatan konsumsi tidak hanya dilakukan untuk mempertahankan hidup, tapi juga untuk kesenangan dan harga diri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *