Tahukah kamu, dalam sistem perbankan, setiap bank tidak bisa menggunakan seluruh dana simpanan nasabah untuk disalurkan sebagai kredit atau investasi? Sebagian dari dana tersebut harus disimpan sebagai cadangan di bank sentral, yang dikenal sebagai Giro Wajib Minimum (GWM) atau Reserve Requirement.

Kebijakan ini berperan penting dalam menjaga stabilitas keuangan, mengendalikan jumlah uang beredar, serta memastikan bank memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajiban kepada nasabah. Namun, bagaimana sebenarnya reserve requirement bekerja, dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian? Tulisan berikut ini akan membahas secara mendalam mengenai apa itu reserve requirement dan pengaruhnya dalam sistem perbankan dan kebijakan moneter.

Mengenal Reserve Requirement

Di balik transaksi perbankan sehari-hari, terdapat sebuah mekanisme yang mengatur seberapa banyak uang yang dapat dipinjamkan oleh bank. Mekanisme tersebut adalah reserve requirement. Reserve Requirement (RR) atau yang sering kita sebut sebagai Giro Wajib Minimum (GWM) adalah simpanan minimum yang harus dipelihara oleh Bank dalam bentuk saldo Rekening Giro pada Bank Indonesia yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari dana pihak ketiga.

Sesuai namanya, RR merupakan rasio atau persentase perbandingan persyaratan dana yang harus dipertahankan oleh bank dengan jumlah total simpanan yang dikelola bank. Kebijakan ini ditetapkan oleh bank sentral untuk memastikan bahwa bank-bank umum memiliki aset yang cukup untuk membayar nasabah mereka jika terjadi penarikan dalam jumlah yang sangat besar.

RR merupakan instrumen bank sentral untuk membuat kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi, nilai tukar (kurs), dan jumlah uang beredar. RR biasanya dinyatakan dalam persentase, yang menunjukkan proporsi dari total kewajiban deposito bank yang harus disimpan sebagai cadangan. Cadangan ini dapat disimpan baik sebagai uang tunai di brankas di bank atau sebagai deposito di bank sentral.

Setiap bank harus mematuhi regulasi mengenai cadangan wajib yang ditentukan oleh Bank Indonesia. Sebagai ilustrasi, Anggaplah Bank Indonesia menetapkan rasio cadangan wajib sebesar 8%. Itu artinya jika total simpanan nasabah sebesar Rp100 miliar, maka bank harus menyimpan cadangan sebesar Rp8 miliar, dan bisa menggunakan dana sebesar Rp92 miliar untuk disalurkan sebagai pinjaman/kredit.

Selain dirancang untuk mengantisipasi penarikan dana oleh nasabah atau risiko keuangan lainnya, RR juga digunakan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sektor keuangan sebagai bagian dari kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengendalikan inflasi dan menjaga kestabilan ekonomi.

Fungsi dan Tujuan Reserve Requirement

RR memiliki beberapa fungsi utama dalam sistem keuangan dan ekonomi, antara lain sebagai berikut:

1. Mengontrol Jumlah Uang Beredar

Melalui pengaturan RR, bank sentral dapat memengaruhi pasokan uang dan kredit dalam perekonomian, serta mengontrol suku bunga jangka pendek. Dengan menaikkan atau menurunkan RR, bank sentral bisa mengatur jumlah uang yang tersedia untuk dipinjamkan oleh bank kepada masyarakat.

  • Jika RR dinaikkan, jumlah uang yang bisa dipinjamkan berkurang, sehingga uang beredar berkurang. Kebijakan tersebut dapat digunakan untuk mengendalikan inflasi.

  • Jika RR diturunkan, bank bisa memberikan lebih banyak pinjaman, sehingga uang beredar bertambah. Kebijakan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

2. Menjaga Likuiditas Bank

Dengan menyimpan sebagian dana di bank sentral, bank memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi kemungkinan penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Jika terlalu banyak nasabah menarik dana mereka secara besar-besaran (bank run), bank yang tidak memiliki cadangan yang cukup bisa mengalami kebangkrutan, Reserve requirement membantu mencegah hal ini.

3. Menstabilkan Sistem Keuangan

Dengan kebijakan RR yang efektif, bank sentral bisa mencegah gejolak ekonomi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pinjaman dan simpanan. Dengan kata lain, RR membantu menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan dengan mengurangi risiko terjadinya krisis perbankan.

Cara Kerja Reserve Requirement

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bank sentral menetapkan persentase tertentu dari total simpanan bank yang harus disimpan sebagai cadangan. Persentase ini bisa bervariasi tergantung pada jenis simpanan atau kebijakan moneter yang sedang belaku.

Contoh perhitungan:

Misalkan Bank Indonesia menetapkan RR sebesar 10% dari total simpanan di bank. Jika sebuah bank memiliki total simpanan dari nasabah Rp1 triliun, maka:

  • Rp100 miliar (10%) harus disimpan di Bank Indonesia sebagai cadangan wajib.

  • Rp900 miliar (90%) bisa digunakan oleh bank untuk pinjaman atau investasi.

Kemudian jika Bank Indonesia menaikkan RR menjadi 15%, maka bank harus menyimpan Rp150 miliar sebagai cadangan, sehingga dana yang bisa dipinjamkan berkurang menjadi Rp850 miliar.

Sebaliknya, jika RR diturunkan menjadi 5%, maka bank hanya perlu menyimpan Rp5 miliar, sehingga bank akan memiliki lebih banyak dana (Rp950 miliar) untuk dipinjamkan.

Jenis Reserve Requirement

Berdasarkan data dari bank Indonesia, RR dibedakan menjadi beberapa macam. 

1. Giro Wajib Minimum Primer

GWM Primer yaitu bagian dana yang harus disimpan di rekening mereka di bank sentral. Ini adalah cadangan wajib yang tidak bisa digunakan.

2. Giro Wajib Minimum Sekunder

GWM Sekunder yaitu cadangan tambahan dalam bentuk surat berharga (misalnya, Surat Berharga Negara) untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas. Surat berharga ini bersifat likuid dan dapat diuangkan dengan cepat jika dibutuhkan.

3. Giro Wajib Minimum Rata-rata

GWM Rata-rata yaitu rata-rata saldo minimum dalam periode tertentu yang harus dipenuhi bank. Beberapa bank sentral mengizinkan bank untuk menyimpan cadangan dalam jumlah rata-rata selama periode tertentu, bukan jumlah tetap setiap hari. 

Dampak Reserve Requirement

Perubahan dalam kebijakan RR dapat memengaruhi berbagai aspek ekonomi, termasuk inflasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Berikut ini adalah beberapa dampak kebijakan reserve requirement.

1. Terhadap Bank

Bagi bank, kenaikan RR dapat mengurangi kemampuan mereka untuk memberikan pinjaman, yang kemudian dapat mengurangi keuntungan bank. Sebaliknya, penurunan RR dapat meningkatkan kemampuan bank untuk memberikan pinjaman.

2. Terhadap Perekonomian

Kebijakan RR dapat memengaruhi tingkat suku bunga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan memahami reserve requirement, kita dapat lebih memahami bagaimana bank sentral mengelola kebijakan moneter dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Cepy Suherman

Share
Published by
Cepy Suherman

Recent Posts

Lembaga Pembiayaan

Lembaga Pembiayaan adalah institusi atau perusahaan yang memberikan layanan pembiayaan dalam berbagai bentuk kepada individu,…

5 days ago

Cek Skor Kredit dengan SLIK OJK

Apakah kamu pernah mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga keuangan yang sejenis? Bagi kamu yang…

1 week ago

Pengantar Akuntansi

Akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi, yang memungkinkan adanya…

3 months ago

Badan Usaha

Badan usaha (business entity) adalah suatu kesatuan yuridis dan ekonomis yang menggunakan modal dan tenaga…

5 months ago

Nasionalisasi vs Privatisasi

Privatisasi didefinisikan sebagai penjualan saham persero (perusahaan perseroan), baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain…

9 months ago

Mengenal Cukai

Cukai merupakan pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang memiliki sifat/karakteristik tertentu seperti etil…

10 months ago