Teori Makroekonomi Klasik (Part 2)

Pada artikel sebelumnya mengenai Teori Makroekonomi Klasik (Part 1), telah dibahas mengenai output agregat (Model I) serta permintaan dan penawaran tenaga kerja (Model II). Model I menjelaskan mengenai faktor apa yang menentukan besar kecilnya jumlah barang dan jasa yang dapat dihasilkan suatu perekonomian. Sementara Model II menjelaskan mengenai faktor apa yang menentukan besar kecilnya permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai kesempatan kerja dan output agregat (Model III) serta uang, harga, dan tingkat bunga (Model IV).

Model III: Kesempatan Kerja dan Output Agregat

Model III dalam Teori Makroekonomi Klasik sebenarnya merupakan gabungan dari Model I dan Model II. Model III ini menjelaskan bagaimana keseimbangan permintaan dan penawaran tenaga kerja di pasar tenaga kerja menentukan tingkat upah riil, volume kesempatan kerja, dan tingkat output agregat.

Perhatikan rumusan lengkap Model III berikut ini!

Fungsi Produksi:

Pasar Tenaga Kerja:

Untuk menjelaskan bagaimana keseimbangan pasar tenaga kerja menentukan tingkat upah riil, kesempatan kerja, dan tingkat output agregat, perhatikan Gambar 1 berikut ini! 

Gambar 1. Kesempatan Kerja dan Output Agregat

 

Pada Gambar 1 di atas ditunjukkan bagaimana permintaan dan penawaran tenaga kerja bertemu di pasar tenaga kerja. Perpotongan kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja akan menciptakan keseimbangan di pasar tenaga kerja. Titik keseimbangan tersebut kemudian akan menentukan besar kecilnya volume kesempatan kerja (L) dan tingkat upah riil.

Volume kesempatan kerja melalui fungsi produksi kemudian akan menentukan tingkat output agregat perekonomian. Output dan kesempatan kerja dapat berubah karena ada perubahan dalam stok kapital atau tingkat teknologi yang digunakan, atau kualitas tenaga kerja. 

Apakah upah riil (W/P), output dan volume kesempatan kerja dapat berubah? Menurut Teori Makroekonomi Klasik, upah riil, output agregat, dan volume kesempatan kerja dapat mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat terjadi hanya apabila ada perubahan dalam variabel-variabel yang bersifat riil, seperti perubahan dalam tingkat teknologi, stok kapital, kualitas tenaga kerja maupun penawaran tenaga kerja.  

Ketika ada peningkatan stok kapital, atau adanya kemajuan tingkat teknologi yang digunakan, atau meningkatnya kualitas (skill dan keahlian) tenaga kerja, maka dalam jangka panjang fungsi produksi agregat akan mengalami pergeseran ke atas menjadi

Bergesernya kurva fungsi produksi ke atas, mengandung arti bahwa pada setiap penggunaan input tenaga kerja, slope fungsi produksi akan semakin besar. Slope dari fungsi produksi sendiri menunjukkan besarnya produktivitas fisik marginal dari tenaga kerja atau MPL. Oleh karena itu, bergesernya fungsi produksi ke atas mengandung arti bahwa MPL pada setiap tingkat penggunaan tenaga kerja meningkat. Meningkatnya MPL ini kemudian berakibat pada bergesernya kurva permintaan tenaga kerja ke kanan menjadi LD1

Pergeseran dalam kurva permintaan tenaga kerja ke sebelah kanan menyebabkan keseimbangan pasar tenaga kerja berubah dari titik E0 menjadi E1. Akibatnya, kesempatan kerja, output, dan upah riil mengalami peningkatan.

Sekarang coba kamu perhatikan, bahwa dalam model Klasik peningkatan standar hidup tenaga kerja dapat terjadi karena adanya peningkatan dalam stok kapital atau adanya peningkatan teknologi yang digunakan dalam proses produksi, atau karena meningkatnya kualitas tenaga kerja.

Bagaimana Dampak Perubahan Harga (P) terhadap Output dan Tenaga Kerja?

Untuk menjelaskan mengenai dampak perubahan harga terhadap output dan kesempatan kerja, coba kamu perhatikan Gambar 2 berikut ini!          

Gambar 2. Dampak Perubahan Tingkat Harga dan Kurva Penawaran Agregat

 

Pada Gambar 2 (A) dijelaskan bahwa apabila harga meningkat dari P1 menjadi P2, maka upah riil (W/P) akan turun menjadi (W/P)1. Kemudian saat upah riil turun, pasar tenaga kerja mengalami kelebihan permintaan tenaga kerja (LD>LS) sebesar jarak A – B. 

Akibat adanya kelebihan permintaan tenaga kerja, maka tingkat upah nominal (W) akan terdorong naik, sehingga upah riil kembali naik menjadi (W/P)0. Pada akhirnya, keseimbangan pasar tenaga kerja tetap tidak berubah, yaitu pada titik E dengan volume kesempatan kerja L0 dan output agregat yang dihasilkan perekonomian sebesar Y0.

Ada hal menarik dalam model Klasik ini, yaitu bahwa perubahan harga tidak menyebabkan volume kesempatan kerja dan tingkat output agregat mengalami perubahan. Hal itu kemudian menyebabkan kurva penawaran agregat (AS) dalam model Klasik menjadi vertikal atau bersifat inelastis sempurna sebagaimana diperlihatkan Gambar 2 (B).

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam model Klasik perubahan volume kesempatan kerja dan tingkat output agregat hanya dapat terjadi jika ada perubahan dalam variabel-variabel yang bersifat riil, seperti stok kapital, tingkat teknologi, kualitas tenaga kerja, atau jumlah penawaran tenaga kerja.

Sementara itu variabel-variabel yang bersifat moneter atau nominal, seperti tingkat harga tidak mempengaruhi volume kesempatan kerja dan output agregat. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai Dikotomi Klasik (Classical Dichotomy).

Dikotomi Klasik menganggap bahwa variabel riil dalam perekonomian seperti output dan lapangan kerja ditentukan murni oleh faktor riil, bukan oleh faktor moneter. Demikian pula variabel moneter ditentukan murni oleh variabel moneter, bukan oleh faktor riil. Dalam pandangan Klasik, fungsi utama uang hanya sebagai media pertukaran yang dapat memperlancar transaksi dan proses produksi.

Model IV: Uang, Harga, dan Tingkat Bunga

Pada Model IV ini akan dibahas mengenai faktor apa saja yang menentukan permintaan dan penawaran uang, tabungan dan investasi, serta tingkat harga agregat. Dan untuk memulai pembahasan, pertama-tama kita akan mengkaji bagaimana mekanisme pasar uang dalam Model Makroekonomi Klasik.

1.  Hukum Say

Di pasar uang, bertemu dua kekuatan, yaitu permintaan uang (MD) dan penawaran uang (MS). Teori permintaan uang dalam Model Klasik mengacu pada Teori Kuantitas Uang. Teori Kuantitas Uang sendiri memiliki hubungan yang erat dengan berlakunya Hukum Say (Say’s Law). Para ekonom Klasik bahkan memandang Hukum Say dan Teori Kuantitas Uang sebagai dua prinsip dasar yang melandasi keseluruhan Teori Makroekonomi Klasik. Lalu seperti apa bunyi Hukum Say?

Hukum Say dirumuskan oleh seorang ahli ekonomi berkebangsaan Perancis bernama Jean Baptiste Say. Hukum Say menyebutkan bahwa “supply creates its own demand“, yang berarti setiap penawaran akan selalu menciptakan permintaannya sendiri, atau setiap barang yang diproduksi selalu ada yang membelinya. Hukum Say ini kemudian akan menjadi landasan mengenai sisi penawaran agregat. 

Menurut Hukum Say, setiap proses produksi akan menimbulkan dua akibat, yaitu dihasilkannya barang dan jasa (Q) dan juga muncul pendapatan (Y) yang diterima para pemilik faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi tersebut. Jadi, Q = Y. Barang (Q) yang dijual di pasar barang akan menimbulkan penawaran agregat (Q = AS).    

Hukum Say menganggap bahwa keinginan masyarakat memegang uang bukan untuk disimpan sebagai bentuk kekayaan, melainkan masyarakat membutuhkan uang hanya untuk mempermudah pertukaran (medium of exchange) dan menjadikannya sebagai alat untuk menentukan ukuran nilai barang dan jasa (unit of account). 

Setiap pendapatan (Y) yang diterima pemilik faktor produksi akan selalu dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa, sehingga akan menimbulkan permintaan (Y = AD). Jadi menurut Hukum Say: Q = AS = Y, dan Y = AD, dengan demikian AS = AD. 

Ketika AS = AD, maka dapat disimpulkan bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri, yang berarti pula setiap output yang dihasilkan akan selalu habis terjual. Dengan kata lain, AS akan selalu sama dengan AD. Hal ini kemudian berimplikasi di mana output potensial = output aktual, GDP gap = 0, pengangguran sumber daya tidak akan pernah terjadi, dan ini berarti perekonomian akan selalu berada pada pengerjaan penuh (full employment).

2. Tabungan, Investasi, dan Tingkat Bunga

Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa dalam Model Klasik, setiap pendapatan akan langsung menjadi permintaan agregat (Y = AD). Dan permintaan agregat sendiri merupakan penjumlahan konsumsi dan investasi (AD = C + I). Lalu bagaimana dengan tabungan (S)? Dalam Teori Makroekonomi Klasik, tabungan (S) diartikan sebagai tindakan menunda konsumsi sekarang.  

Mengapa orang mau menunda konsumsinya? Ketika seseorang menunda konsumsi maka di saat yang sama ia menunda kepuasan dari membelanjakan pendapatannya sekarang. Ekonom Klasik berpendapat bahwa ada dua alasan mengapa seseorang mau menunda konsumsi.

Pertama, orang mau menabung bukan berarti tabungan tersebut akan dipegang sebagai uang tunai, tetapi ada pihak lain (yaitu produsen) yang membutuhkan dana tersebut untuk investasi. Jadi dalam model Klasik, tabungan itu akan secara langsung diinvestasikan. Dengan demikian besarnya tabungan (S) akan selalu sama dengan besarnya investasi (I).

Kedua, orang mau menabung karena produsen yang meminjam dana tersebut bersedia membayar balas jasa berupa bunga. Bunga dalam model Klasik dipandang sebagai balas jasa atau hadiah karena orang mau menunda konsumsinya. Biasanya semakin tinggi tingkat bunga, maka semakin besar jumlah uang yang ditabung, dan sebaliknya. Jadi tingkat bunga memiliki hubungan yang positif dengan tingkat tabungan agregat. S = S(i),  dS/di > 0.

Lalu Apa yang Menentukan Besar Kecilnya Pengeluaran Investasi?

Investasi merupakan tambahan terhadap stok kapital tetap (I = ΔK). Pengeluaran investasi ini bentuknya dapat berupa pengeluaran untuk membeli alat-alat produksi baru. Selain melakukan investasi, produsen pun kerap melakukan divestasi dengan cara mengurangi stok kapitalnya. Pertanyaannya, atas dasar apa produsen melakukan investasi atau justru melakukan divestasi? 

Ada dua faktor yang menjadi bahan pertimbangan mengapa produsen menambah atau mengurangi stok kapitalnya. Pertama, adalah biaya modal, yaitu tingkat bunga yang harus dibayarkan.  Kedua, tingkat penerimaan marginal yang mungkin diperoleh dari setiap tambahan stok kapital baru, atau biasa disebut juga dengan value of the marginal product of capital (nilai produk marginal modal, NPMM).

Jika NPMM > tingkat bunga yang harus dibayar, produsen akan terdorong untuk meningkatkan pengeluaran investasinya. Begitupun sebaliknya. Dengan demikian, model Klasik menyimpulkan bahwa pada tingkat NPMM yang sudah tertentu, tinggi rendahnya pengeluaran investasi agregat dipengaruhi secara negatif oleh tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin rendah pengeluaran investasi. Begitupun sebaliknya. I = I(i),  dI/di < 0.  

Berdasarkan fungsi tabungan dan fungsi investasi yang pernah kita bahas tadi, diperoleh teori penentuan tingkat bunga model Klasik seperti berikut:

S = S(i), dS/di > 0

I = I(i), dI/di < 0

S = I

Gambar 3. Teori Dana Pinjaman

 

Gambar 3 di atas menggambarkan mengenai teori dana pinjaman. Tabungan merupakan konsumsi yang ditunda, sekaligus sebagai pasokan dana yang dapat dipinjamkan untuk investasi. Besar kecilnya tabungan dan investasi tergantung pada besar kecilnya tingkat suku bunga. 

Dalam model Klasik, tabungan itu akan selalu sama dengan investasi, sehingga perekonomian tidak akan mengalami kekurangan permintaan agregat. Dengan demikian, pernyataan Hukum Say yang menyatakan bahwa AS = AD, tetap berlaku.  

3. Teori Kuantitas Uang

Teori Kuantitas Uang adalah teori yang menyatakan bahwa perubahan harga berkaitan erat dengan perubahan jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar atau penawaran uang (M) dalam model Klasik dipandang sebagai variabel eksogen. Sementara permintaan uang (MD) dipandang sebagai variabel endogen, yaitu sebagai fungsi dari tingkat pendapatan.

MD = MD(Y),  dMD/Y > 0

Dalam teori kuantitas uang, sebagaimana juga disampaikan Hukum Say, menyatakan bahwa tujuan masyarakat memerlukan uang tunai adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi (tukar-menukar), dan bukan untuk tujuan lainnya. Semakin tinggi volume transaksi yang dilakukan masyarakat, maka akan semakin tinggi permintaan masyarakat akan uang tunai.

Irving Fisher dalam bukunya yang berjudul The Purchasing Power of Money (1911) merumuskan hubungan antara volume transaksi dan permintaan uang dalam suatu persamaan identitas yang dikenal dengan the equation of exchange sebagai berikut:

MV = PY

di mana M adalah jumlah uang beredar, V adalah velocity of money atau kecepatan peredaran uang, P adalah tingkat harga, dan Y adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan perekonomian. 

Jumlah barang dan jasa (Y), sebagaimana dijelaskan dalam Model III, dalam jangka pendek ditentukan oleh volume kesempatan kerja. Sementara volume kesempatan kerja dalam jangka pendek adalah konstan, karena perekonomian berada dalam kondisi full employment.

Variabel Y dalam jangka pendek dianggap konstan. Variabel V menurut model Klasik ditentukan oleh faktor kelembagaan, seperti pembayaran upah maupun faktor teknologi seperti perkembangan alat-alat pembayaran baru seperti cek, atau kartu kredit. Para ekonom Klasik berkeyakinan bahwa faktor kelembagaan dan teknologi dalam jangka pendek relatif tidak berubah, dan karena itu variabel V dalam jangka pendek juga konstan.

Gambar 4. Teori Kuantitas Uang

     

Karena V dan Y konstan, sedangkan MV = PY merupakan suatu identitas, maka model Klasik memprediksi: ΔM = ΔP. Artinya, jumlah uang beredar (M) secara langsung dan proporsional mempengaruhi tingkat harga (P). Jika M berubah 5%, maka P juga akan berubah sebesar 5%. Jadi menurut model Klasik:

P = F(M),  dP/dM > 0 

Di pasar uang, permintaan uang (MD) akan bertemu dengan penawaran uang (M) sehingga menciptakan keseimbangan pasar uang.

MD = M   

Berdasarkan persamaan identitas the equation of exchange, dapat didefinisikan variabel M sebagai 

Dengan mendefinisikan 1/V = k, maka persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi

MD = kPY

Persamaan di atas menyatakan bahwa permintaan uang merupakan proporsi tertentu (k) dari tingkat PDB (= PY). Ini berarti, jika k konstan, maka tinggi rendahnya jumlah permintaan uang (MD) secara positif dipengaruhi oleh tingkat output agregat (Y). Karena itu model Klasik merumuskan permintaan uang sebagai fungsi dari tingkat output agregat.

Teori kuantitas uang secara implisit juga merupakan teori permintaan agregat model Klasik. Sebagaimana diketahui permintaan agregat (AD) menunjukkan jumlah produk (barang dan jasa) yang diminta perekonomian pada berbagai kemungkinan tingkat harga dan pendapatan. Gambar 5 berikut menjelaskan penurunan kurva permintaan agregat model Klasik.

Gambar 5. Kurva Permintaan Agregat Model Klasik

 

Perhatikan persamaan kuantitas uang MV = PY. Jika M = 600 dan V = 4, maka 600(4) = PY. Dengan demikian kemungkinan kombinasi antara P dan Y yang sesuai dengan nilai MV adalah P = 8 dan Y = 300 atau P = 6 dan Y = 400.

Kesimpulannya adalah karena V atau k dalam model Klasik adalah konstan, maka dalam jangka pendek satu-satunya faktor penyebab terjadinya pergeseran kurva permintaan agregat adalah perubahan jumlah uang beredar (M). Jika M naik, maka kurva AD bergeser ke kanan, dan sebaliknya.

 

Referensi Utama:

Kusnendi (2002). Seri Kuliah Teoritika Ekonomi – Teori Makroekonomi I (Model Fluktuasi Ekonomi Jangka Pendek)

Leave a Reply

Your email address will not be published.